Raihlah Akhiratnya, Dapatkan Uangnya Part 2

0
97

Dalam bahasa Ary Ginanjar Agustian, penulis buku Emotional Spiritual Quotient (ESQ), bila seseorang ingin sukses dunia – akhirat maka harus mendahulukan komitmen spiritual dari pada komitmen fisik. Ary kemudian membuat perbandingan dengan Piramida Kebutuhan Abraham Maslow, dengan Piramida Kebutuhan ESQ.

Pada piramida Abraham Maslow, kebutuhan fisik (Basic Need) menempati urutan pertama, kemudian diikuti Safety Need, Social Need, Self Esteem dan Self Actualization, sehingga yang terjadi manusia tidak pernah puas dengan segala kebutuhan dasarnya yang bersifat relatif dan terus berlomba-lomba memperebutkannya bahkan dengan menghalalkan segala cara dan jarang yang berhasil mencapai tingkat aktualisasi diri.

Urutan kebutuhan manusia sesungguhnya sudah diajarkan oleh Nabi Ibrahim AS dalam urutan pelaksanaan ibadah haji, 4500 tahun yang lalu namun kita tidak pernah memahaminya. Urutan tersebut adalah :

  • Self – Actualization (aktualisasi diri), yaitu makna di dapat saat Wukuf di padang Arafah ketika manusia menyadari siapa dirinya, dari mana asalnya dan mau kemana dia.
  • Self Esteem (pengakuan diri), dijawab dengan melontar jamarat (jumroh). Saat itu manusia harus melontarkan segala kesombongan dan kebanggaan yang selama ini justru dikejar.
  • Social Need (kebutuhan sosial) yang dibangun dengan thawaf yaitu masyarakat yang memiliki nilai dan prinsip yang sama yang dilambangkan dengan pakaian ihram dan kemudian berputar bersama-sama mengelilingi satu nilai secara harmonis dan damai.
  • Safety Need (kebutuhan rasa aman) yang dijawab dengan Sa’i, yaitu ketika manusia merasa takut, maka saat itulah justru harus terus bergerak atau bekerja seperti yang dilakukan Siti Hajar yang terus berlari dari bukit Shafa ke Marwah.
  • Basic Need (kebutuhan dasar) akan terpenuhi dengan cara yang baik dan benar, itulah air zam – zam yang penuh berkah yaitu hasil dari kemenangan fisik (IQ) yang didahului dengan kemenangan mental (EQ) dan spiritual (SQ). (dikutip dari Harian Umum Republika, 14 Pebruari 2006).

Orang yang berorientasi akhirat selalu berpikir jangka panjang. Implikasinya, dia akan berusaha secara optimum dalam setiap kegiatannya. Dia berusaha untuk tidak berbuat kesalahan sekecil pun karena akan menurunkan tingkat kepercayaan kepada dirinya. Kalau terlanjur berbuat salah, dia akan memperbaikinya. Dia akan bekerja dengan jujur, amanah dan profesional. Orang yang profesional dan dapat dipercaya dalam bidang apa pun akan mendapatkan ‘penghargaan’ berupa karir yang baik – bila dia bekerja, dan bisnis berkembang dan rejeki berlimpah bila sebagai pengusaha. Sebaliknya bila orang berorientasi dunia cenderung menghalalkan segala cara, yang penting dapat uang.

Bila kita ingin kaya penuh berkah, mau tidak mau, suka tidak suka, jadikan akhirat sebagai tujuan akhir. Sebab dengan niat itu kita akan berusaha mendekatkan diri kepada Allah sehingga Dia akan memudahkan urusan dunia – akhirat. Itulah salah satu rahasia hidup berkelimpahan. Hal ini juga sesuai dengan tujuan Allah menciptakan jin dan manusia yaitu untuk beribadah.

Masalahnya tidak semua orang menyadari hal ini dan menganggap urusan ibadah hanyalah urusan pahala yang hanya ada di akhirat nanti. Selain itu, kebanyakan orang juga selalu mengharap hasil yang diterima, sebelum melakukan sesuatu dan sebelum di ketahui secara jelas (materi) hasilnya. Ini adalah budaya pamrih. Sayangnya, budaya ini secara terus menerus telah diajarkan oleh nenek moyang sampai pada ibu bapak kepada anaknya. Sadar atau tidak orang tua kita sering mengatakan seperti ini, “Belajar yang baik, nanti kalau naik kelas dibelikan sepatu baru”, “Shalat yang rajin, biar nanti tidak masuk neraka”, “Jangan menangis, nanti ibu belikan mainan”, dan sebagainya. Akibatnya, ketika anak tumbuh dewasa, ia menjadi seorang yang selalu pamrih, yang seringkali bertindak pragmatis, jangka pendek. Jika secara jangka pendek tidak menguntungkan, maka pekerjaan, bisnis atau hubungan apa pun dengan orang lain sulit dilakukan. Kita dapat mengamati sikap si Mbok contoh diatas, yang berorientasi jangka panjang, terlihat saat memulai bisnisnya tidak untung banyak tetapi dengan ikhlas ia lakukan.

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

Sumber gambar : Google

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here