Raihlah Akhiratnya, Dapatkan Uangnya Part 5 (Bersyukur)

0
62

Selamat Pagi Sobat, berikut lanjutan dari bagian artikel sebelumnya ya silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

“Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu memaklumkan : ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab – Ku sangat pedih’.

Q.S Ibrahim (14) : 7

Syukur merupakan salah satu rahasia untuk melipatgandakan kekayaan. Syukur adalah menerima apa pun secara ikhlas yang diberikan oleh Allah kemudian menggunakan dan mengelola nikmat dengan baik. Bagaimana agar bisa bersyukur dengan baik? Dalam bersyukur, sebaiknya tidak terjebak pada kondisi tertentu. Kita tidak boleh bersyukur saat mendapatkan sesuatu yang kita sukai tetapi juga saat menerima sesuatu yang tidak disukai. Disukai atau tidak disukai sebenarnya itu adalah nikmat dari Allah, karena Dia selalu memberikan hikmah dibalik semua kejadian.

Dengan bersyukur, orang tidak fokus pada kekurangan yang diberikan Allah tetapi fokus memanfaatkan kekurangan itu agar dapat bermanfaat sebesar – besarnya. Bayangkan saudara-saudara kita yang (maaf) memiliki wajah tidak tampan atau tidak cantik, gembrot, gigi keluar (tonggos), tubuh kecil sekali (cebol) dan kekurangan phisik lainnya. Bila mereka minder, menggerutu serta menyesali hidupnya tentu akan sedih, marah dan hidupnya tidak bahagia. Karena bisa menikmati dan memanfaatkan kekurangan tubuhnya, maka lahirlah pelawak – pelawak yang (maaf) memiliki bentuk tubuh dan wajah tidak tampan atau tidak cantik, gembrot, gigi keluar dan cebol. Mereka tidak menyesal (bersyukur) dengan kekurangan tubuhnya karena dengan itu mereka bisa menjadi pelawak terkenal (selebritis) dan hidup berkecukupan.

Untuk melengkapi uraian bagaimana bisa bersyukur dalam semua kondisi, berikut ini saya sampaikan sebuah cerita. Al kisah di jaman dulu, dalam sebuah kampung ada seorang keluarga yang memiliki kuda yang indah. Keluarga itu menyayanginya. Orang-orang kampung memujinya dan menilai keluarga itu sangat beruntung memiliki kuda cantik. Beberapa saat kemudian, kuda cantik itu meninggalkan rumah, entah pergi kemana tak ketahuan rimbanya. Keluarga itu sedih dan menilai Tuhan tidak adil karena memisahkan kuda kesayangannya. Beberapa saat kemudian kuda itu kembali lagi. Saking senangnya, anak laki satu-satunya langsung menunggang kuda itu. Celakanya anak itu terjatuh dan kakinya patah. Kembali orang tuanya sedih dan mengatakan Tuhan tidak adil. Dia menyesal kudanya kembali lagi sehingga menyebabkan kaki anaknya patah. Suatu saat di negeri itu ada wajib militer. Semua pemuda yang sudah cukup umur wajib menjadi militer untuk membela negerinya dari serbuan. Dalam kondisi seperti itu, keluarga ini kembali merasa syukur (setelah menyesal kaki anaknya patah) karena anaknya tidak ikut wajib militer. Sebab berdasarkan pengalaman, pemuda yang ikut wajib militer banyak yang meninggal dunia, minimal cacat tubuh setelah berperang.

Cerita lainnya tentang bapak teman saya, yang mengalami kecelakaan di jalan tol. Sang bapak sebut saja Hamzah, mobilnya ditabrak oleh mobil home staff Kedubes Arab Saudi. Saking kerasnya mobil itu ditabrak hingga jungkir balik tiga kali. Untung Hamzah selamat, meski ada sedikit luka (tidak parah) dan shock berat. Di dalam mobil ada beberapa botol minuman syrup berwarna merah sehingga akibat tabrakan itu pecah berantakan dan syrupnya mengalir kemana – mana. Kondisi itu membuat penumpang mobil Kedubes Arab Saudi ketakutan, menyangka Hamzah dan temannya meninggal dunia. Sebagai rasa syukur, pejabat Kedubes memberikan hadiah berupa biaya ibadah haji untuk Hamzah dan temannya, yang belum pernah pergi haji. Dalam kejadian itu, meski saya tidak tahu persis apakah Hamzah bersyukur atau tidak, tetapi yang pasti Allah memberikan hikmah pada kejadian tersebut. Syukur dalam kondisi dan situasi apa pun memang berat. Tetapi itulah tantangan hidup. Dengan bersyukur orang merasa tidak ada yang salah dengan apa yang diberikan Tuhan kepada manusia.

Saya berani mengaitkan sikap bersyukur dengan kecerdasan seseorang untuk menghadapi kemalangan hidup, yang oleh orang barat disebut sebagai Adversity Quotient (AQ). Merujuk pendapat Paul G. Stoltz, Ph.D., AQ bukan sekedar kemampuan seseorang untuk bertahan secara pasif dari serangan penderitaan, karena kemampuan seperti ini sudah dimiliki oleh banyak orang. AQ adalah kemampuan mengolah penderitaan menjadi kreasi, prestasi atau peluang bermanfaat. Paul mencontohkan Erik Weihenmayer, sang juara pendaki gunung asal Amerika Utara, yang ternyata tunanetra sejak usia 15 tahun. Meski awalnya banyak orang yang meragukan keputusannya untuk memasuki sekolah olahragawan tetapi ia yakin bahwa kebutaannya tidak akan menjadi penghalang untuk menikmati hidup. “Blindness won’t keep me from having fun”. Bahkan ketika menerima piala pada kejuaraan menaklukkan gunung setinggi 3000 kaki tahun 1955 dan 1996, ia dengan mantap mengatakan bahwa kebutaan mata hanyalah kerikil kecil dan ia hanya membutuhkan cara lain yang berbeda dengan orang normal.”Blindness is just a nuisance and you just have to find a different way of doing it”.

Eits.. masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

Sumber gambar : Google

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here