Rencana Keuangan 1000 Tahun (Part 1)

0
166

Selamat Pagi Sobat, berikut lanjutan dari bagian artikel sebelumnya ya silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Hampir semua pakar keuangan keluarga menyarankan untuk membuat rencana keuangan hanya sampai meninggal dunia. Saya lebih menyarankan kepada siapa pun merencanakan keuangan untuk kehidupan didunia dan akhirat nan abadi. Berapa lamanya, kita tidak tahu karena disana kita akan selamanya hidup dalam keabadian. Saya lebih suka menyebutnya perencanaan keuangan 1000 tahun. Angka 1000 tahun ini untuk penyederhanaan saja, untuk menggambarkan bahwa kita hidup selamanya. Oleh karena itu jika ada yang ingin membuat perencanaan keuangan 1.000.000.0000 (satu milyar) tahun terserah saja. Itu hanya istilah saja.

Berikut ini langkah – langkah yang harus dilakukan dalam membuat rencana keuangan yaitu :

  1. Financial Check Up
  2. Menetapkan Tujuan Keuangan
  3. Menata Ulang Kondisi keuangan
  4. Evaluasi & Penyesuaian

Langkah 1 : Financial Check Up

Ibarat kesehatan manusia, kesehatan keuangan juga perlu di – check up alias diperiksa untuk mengetahui apakah masih sehat, tambah sehat atau malah turun kesehatannya. Pemeriksaan keuangan, minimal harus dilakukan pada aset dan kewajiban serta arus kas keuangan (cash flow).

Keuangan keluarga juga mirip dengan keuangan perusahaan yang harus dikelola secara profesional. Pemeriksaan kesehatan keuangan penting untuk mengetahui sumber penghasilan rutin maupun sumber lain termasuk investasinya apakah sudah optimal atau belum. Demikian juga implikasi pengeluaran terhadap aset dan hutang yang kita miliki saat ini. Apakah aset bertambah atau berkurang. Jangan sampai hutang bertambah tetapi aset tidak bertambah.

Pemeriksaan kesehatan keuangan juga untuk memastikan, apakah penghasilan atau pengeluaran kita sudah sesuai kewajaran atau belum. Bila belum, bagaimana memperbaiki kondisinya. Bagaimana mendapatkan penghasilan secara optimal, menentukan strategi investasi atau pengelolaan pengeluaran yang benar.

Financial Check Up : Aset & Kewajiban

Setiap orang atau keluarga seharusnya memiliki laporan neraca keuangan yang menggambarkan aset dan kewajibannya. Berikut ini saya berikan contoh aset dan kewajiban si Fulan posisi per 31 Desember 2005, yang tercatat dalam sebuah neraca keuangan pribadinya.

Aset Nilai Kewajiban Nilai
(Rp.000) (Rp.000)
Kas Operasional 13,500 Jangka Pendek 1,500
o Kas Tunai 1,500 o Kartu Kredit 1,500
o Uang di Bank/ATM 12,000 o Lainnya
o Piutang/Tagihan
Aset Investasi 195,500 Jk Panjang 120,000
o Deposito 25,000 o KPR 100,000
o Saham o Kredit Mobil 20,000
o Obligasi o Kredit Motor
o Tabungan Pensiun o Lainnya
o Tab. Pendidikan
o Perhiasan 5,500 KEWAJIBAN 121,500
o Nilai asuransi
o Saham Bisnis 15,000
o Property 150,000
o Lainnya KEKAYAAN
Aset Operasional
299,000 BERSIH 386,500
o Mobil Pribadi 75,000
o Motor 9,000
o Rumah Tinggal 200,000
o Perabot rumah 15,000
o Lainnya
TOTAL ASET ASET +
508,000 KEWAJIBAN 508,000

Contoh laporan keuangan diatas menunjukkan bahwa kekayaan bersih atau total aset dikurangi jumlah kewajiban (hutang) adalah Rp.386.500.000,- dan sebagian besar berupa properti. Pertanyaannya apakah properti tersebut menghasilkan atau tidak? Bila tidak, maka potensi keuntungan yang akan diperoleh hanya berupa kenaikan harga. Pertanyaan lainnya apakah posisi keuangan tersebut sudah sesuai dengan tujuan keuangan yang telah ditetapkan? Apakah kondisi tersebut sudah memberikan gambaran pengelolaan keuangan yang optimal?

Bila aset – aset tidak memberikan manfaat optimal maka manfaat atas aset itu harus ditingkatkan. Apalagi bila tidak ada manfaat sama sekali, apakah kita masih perlu memilikinya? Sebagai contoh, Anda memiliki tape recorder 6 unit, padahal Anda hanya membutuhkan 3 unit, 2 unit untuk anak-anak, 1 unit untuk Anda sendiri. Buat apa memelihara aset yang tidak berguna, bahkan membebani dengan biaya pemeliharaan?

Evaluasi juga dilakukan untuk mengetahui apakah hutang – hutang kita sudah sesuai kebutuhan, ataukah hanya mengikuti hawa nafsu? Kita jangan terjebak pada perilaku mendahulukan simbol – simbol kemewahan, padahal kita belum mampu secara finansial. Sebagai contoh, Anda mengambil hutang untuk membeli mobil keluaran terbaru setiap 3 tahun sekali. Padahal kemampuan Anda hanya membeli mobil bekas umur 5 tahun. Ini adalah perilaku yang berbahaya! Langkah terbaik adalah membeli mobil bekas secara tunai atau mengangsur setiap bulan yang tidak memberatkan keuangan.

Nilai kekayaan bersih menunjukkan sehat tidaknya kondisi keuangan. Bila aset lebih besar dari kewajiban, kemungkinan kondisi keuangan tersebut masih sehat. Semakin besar aset dibandingkan kewajiban (hutang) maka semakin sehat. Sebaliknyan bila aset lebih kecil dari kewajiban berarti nilai kekayaan bersih menjadi minus. Hal ini menunjukkan kondisi keuangan yang tidak sehat, karena aset yang dimiliki tidak dapat menutupi seluruh kewajiban (hutang). Seluruh aset tergadaikan! Kondisi ini sangat berbahaya.

Kita juga dapat menghitung berapa seharusnya kekayaan bersih saat ini dengan memperhatikan umur dan penghasilan. Rumus ini dikembangkan oleh Thomas J Stanley dkk dalam buku The Millionaire Next Door, berdasarkan hasil survei selama bertahun – tahun mengenai orang yang berpenghasilan tinggi atau memiliki kekayaan bersih tinggi.

Kekayaan = Usia Penghasilan Warisan
Bersih X : Tahunan Dibagi (Bila ada)
saat ini
seharusnya sebelum pajak 10

Dari contoh keuangan si Fulan (umur 35 tahun) yang berpenghasilan Rp.120 juta setahun, seharusnya kekayaan bersih si Fulan adalah :

Rp.120.000.000 x 35 : 10 = Rp.420.000.000,-(dengan asumsi tidak ada harta warisan)

Dengan rumus tersebut, Thomas J Stanley mengelompokkan orang menjadi tiga kategori (kelompok) yaitu :

  • Prodigious Accumulator of Wealth (PAW), yaitu orang – orang yang memiliki kekayaan bersih di perempat bagian paling atas. Ciri khas PAW adalah mempunyai minimum empat kali kekayaan yang diakumulasikan oleh UAW. Untuk menduduki posisi PAW yang luar biasa, kekayaan bersih seharusnya dua kali tingkat kekayaan yang diharapkan (seharusnya).
  • Under Accumulator of Wealth (UAW) yaitu orang – orang yang memiliki kekayaan bersih di perempat paling bawah
  • Average Accumulator of Wealth (AAW) atau pengumpul kekayaan rata – rata.

Bila Si Fulan ingin menjadi pengumpul uang (PAW) yang luar biasa maka seharusnya memiliki kekayaan Rp. 840.000.000,- Sebaliknya bila kekayaan bersihnya separuh atau kurang dari angka yang seharusnya maka si Fulan termasuk dalam kelas UAW. Saat ini si Fulan memiliki kekayaan bersih Rp.386.500.000,- atau dibawah yang seharusnya Rp.420.000.000,-, sehingga termasuk dalam kategori UAW.

Nah, dari kondisi keuangan dan indikasinya tersebut, kita bisa menjadikan dasar dalam menentukan pengelolaan keuangan. Kita bisa menentukan langkah prioritas penataan dan perencanaan keuangan keluarga.

Eits.. masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

Sumber gambar : Google

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here