Rencana Keuangan 1000 Tahun Part 3 (Rasio Keuangan)

0
325
Risk - Profit and Loss

Selamat Pagi Sobat, berikut lanjutan dari bagian artikel sebelumnya ya silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Ibarat keuangan perusahaan, keuangan keluarga juga harus dikelola secara profesional. Kita sebaiknya mengetahui rasio – rasio keuangan agar dapat mengetahui kondisi keuangan apakah sehat, cukup sehat atau sakit. Bagaimana cara mengetahui kondisi kesehatan keuangan keluarga? Ada beberapa ‘alat’ pemeriksa kesehatan keuangan yang dapat digunakan. Ahli keuangan keluarga menggunakan rasio – rasio atau perbandingan – perbandingan tertentu.

Menurut DR. Roy Sembel dkk dalam buku Smart Saving and Borrowing for Ordinary Family, ada tiga titik kritis yang wajib diperiksa dalam keuangan yaitu (1) situasi masa kini, yang diukur dengan likuiditas (ketersediaan uang tunai untuk membayar keperluan rutin dan keperluan mendesak); (2) dampak keputusan hutang masa lalu, diukur dengan solvabilitas (kemampuan untuk membayar kewajiban hutang pada saat jatuh tempo); dan (3) kondisi masa depan, diukur dengan rasio produktivitas aset dari hasil menabung atau berinvestasi.

  1. Rasio Likuiditas.

Likuiditas mengukur kemampuan mengubah suatu aset menjadi uang tunai dengan

segera tanpa kehilangan nilai awalnya. Dengan demikian uang tunai merupakan aset paling likuid. Sedangkan saham, deposito, reksadana maupun obligasi cukup likuid karena ketika diuangkan bisa terjadi pengurangan nilai. Misalnya deposito yang dicairkan sebelum waktunya (jatuh tempo) dikenakan penalti atau penurunan harga saham saat diuangkan. Properti adalah aset yang tidak likuid dibandingkan dengan aset yang disebutkan sebelumnya karena untuk menjual properti diperlukan waktu cukup lama dan kemungkinan rugi bila lokasinya tidak strategis.

Setiap keluarga memerlukan tingkat likuiditas tertentu untuk membayar kebutuhan rutin. Idealnya tidak terlalu likuid (kebanyakan uang menganggur) juga tidak terlalu ketat (jumlah uang tunai terlalu sedikit). Kondisi keuangan yang terlalu ketat akan menyulitkan bila ada kebutuhan mendesak seperti biaya berobat.

Berapa kebutuhan idealnya? Banyak ahli perencana keuangan keluarga menyarankan rasionya 3 – 6 bulan dari kebutuhan rata-rata setiap bulan. Rasio itu dihitung dengan membandingkan antara aset likuid berupa uang tunai, tabungan dan deposito dengan kebutuhan rata-rata satu bulan. Berdasarkan catatan aset dan kewajiban keuangan keluarga Fulan, aset likuidnya sebesar Rp.38.500.000,-. Sedangkan kebutuhan rata-rata setiap bulannya Rp. 7.500.000,- sehingga rasio likuiditasnya sebesar 5,13 kali. Ini artinya, aset likuid milik Fulan mampu menutup kebutuhan rutin selama 5,13 bulan atau kurang lebih 5 bulan 10 hari.

Rasio Likuiditas =  Total Aset Likuid/Rata-rata pengeluaran bulanan

  1. Rasio Hutang (rasio solvabilitas)

Rasio ini untuk mengukur kemampuan membayar hutang yang akan jatuh tempo dan mengukur ketergantungan terhadap hutang.

  1. Mengukur ketergantungan terhadap hutang. Rasio ini untuk mengetahui seberapa besar kekuatan riil uang dalam menguasai aset yang dimiliki. Artinya, seberapa besar aset yang dibiayai hutang dan seberapa besar aset yang sebenarnya milik kita. Untuk mengukurnya digunakan rumus berikut :

Rasio Hutang =Total Hutang/Total Aset

Dari catatan keuangan keluarga Fulan diketahui total hutangnya Rp.121.500.000,-dan total asetnya sebesar Rp.508.000.000,- sehingga rasionya menjadi 0.24. Ini artinya 24 persen aset yang dimiliki keluarga si Fulan berasal dari hutang dan sisanya atau sebesar 76 persen adalah benar – benar miliknya.

Apabila rasionya lebih dari angka 1, maka kondisi keuangan sudah bangkrut karena jumlah hutang lebih besar daripada aset. Bila seluruh aset dijual, maka tidak akan menutupi seluruh hutangnya. Kondisi ini juga menunjukkan bahwa seseorang tidak memiliki aset sama sekali, bahkan masih memiliki hutang. Kondisi yang sebaliknya adalah ketika angka rasio mendekati 0 (nol), menunjukkan seluruh aset adalah milik pribadi karena tidak memiliki hutang sama sekali.

Berapa idealnya? Kondisi yang dapat ditolelir pada kisaran 30 persen. Dengan rasio sebesar itu seseorang masih bisa mengontrol penuh aset yang dimiliki karena sebagian besar masih menjadi miliknya. Dalam kondisi demikian, seseorang masih bisa menggunakan aset orang lain (hutang) untuk mempercepat peningkatkan kekayaan. Syaratnya hutang yang digunakan adalah hutang untuk keperluan produktif.

  1. Mengukur kekuatan membayar hutang.

Rasio Pembayaran Hutang = Total Kewajiban Hutang 1 Tahun Ke Depan/Total Pemasukan Per Tahun

Total kewajiban (hutang) si Fulan 1 tahun ke depan sebesar Rp.18.000.000,- dan total pemasukan (penghasilan) per tahun Rp.120.000.000,- sehingga rasionya adalah 0.15. Ini artinya 15 persen dari penghasilan Fulan telah dialokasikan untuk membayar hutang dan sisanya 85 persen masih bisa dialokasikan sesuai kebutuhannya. Idealnya, besarnya rasio ini maksimal 30 persen dari total penghasilan. Bila rasio melebihi 30 persen akan menyulitkan dalam mengelola keuangan.

  1. Rasio Produktivitas Aset

Rasio produktivitas aset dapat diukur dengan dua pendekatan yaitu kekuatan menabung dan kekuatan investasi yang dilakukan. Kita perlu melakukan pengukuran ini agar masa depan keuangan menjadi lebih baik. Bila kita tidak memiliki kemampuan menabung dan kemampuan investasi, maka kehidupan keuangan – secara hitungan teoritis, akan berputar – putar saja pada kebutuhan masa kini. Semua penghasilan yang kita peroleh hanya untuk memenuhi kebutuhan sesaat, bahkan lama – lama defisit!.

  1. Mengukur kekuatan menabung.

Rasio Kekuatan Menabung = Jumlah tabungan per tahun/Jumlah penghasilan per tahun

Penghasilan Fulan sebesar Rp.120.000.000,- sedangkan jumlah tabungannya Rp.12.000.000,-. Berdasarkan angka itu maka rasio kekuatan menabung adalah 0.1. Artinya, Fulan telah menyisihkan uangnya untuk menabung setiap bulan sebesar 10 persen. Prosentase sebesar itu sudah sesuai dengan yang disarankan oleh ahli perencanaan keuangan, minimal 10 persen. Semakin besar prosentasenya tentu saja semakin baik.

  1. Mengukur kekuatan investasi :

Rasio kekuatan investasi = Pendapatan aset investasi/Kekayaan bersih

Kekayaan bersih keluarga Fulan adalah Rp.386.500.000,- Keluarga Fulan tidak memiliki penghasilan dari investasi (nol). Maka 0 (nol) dibagi 386.500.000,- = 0 (nol). Ini artinya tidak ada kekayaan Fulan yang diperoleh dari hasil investasi, sehingga ketergantungan terhadap penghasilan di luar investasi seperti gaji sangat dominan. Semakin besar rasio ini semakin baik karena semakin tidak tergantung pada penghasilan berupa gaji atau pekerjaan secara phisik. Rasio ini menunjukkan tingkat pendapatan passive income. Bila mendekati angka 1 maka kita sudah tidak perlu bekerja lagi (bila mau) karena penghasilan investasi sudah mencukupi seluruh kebutuhan kita. Selain rasio – rasio diatas kita juga bisa menggunakan rasio lain untuk mengukur tingkat pertumbuhan penghasilan. Apakah secara riil nilai penghasilan meningkat, tetap sama atau menurun dibandingkan dengan penghasilan tahun lalu. Untuk mengetahui hal ini, kita harus mengetahui jumlah total penghasilan tahun sebelumnya dan tahun ini. Misalkan penghasilan tahun 2004 sebesar Rp.100.000.000,- dan penghasilan tahun 2005 sebesar Rp.120.000.000,- maka tingkat pertumbuhannya adalah (120.000.000 – 100.000.000) / 100.000.000 = 0.2 atau meningkat sebesar 20 persen. Bila tingkat inflasi tahun 2005 sebesar 10 persen maka tingkat pertumbuhan penghasilan masih diatas tingkat inflasi. Ini artinya, secara nominal maupun secara riil nilai uang kita tetap lebih besar (meningkat). Jadi, bila selisih antara pertumbuhan dan tingkat inflasi nilainya lebih dari nol (positif), berarti penghasilan meningkat secara riil dan dapat meningkatkan gaya hidup (bila mau). Sebaliknya bila nilainya 0 (nol) maka itu berarti kenaikan penghasilan hanya mampu mengimbangi kenaikan inflasi atau tidak ada kenaikan secara riil penghasilan kita. Bahkan bila nilainya negatif, maka secara riil nilai uang ada penurunan penghasilan. Misalnya kenaikan gaji sebesar 7 persen, sementara inflasi 10 persen pada tahun itu. Sebenarnya, secara riil daya beli (nilai riil uang) kita menurun sebesar 3 persen.

Eits.. masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

Sumber gambar : Google

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here