Rencana Keuangan 1000 Tahun Part 4 (Menetapkan Tujuan Keuangan)

0
121

Selamat Pagi Sobat, berikut lanjutan dari bagian artikel sebelumnya ya silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Perencanaan keuangan keluarga sakinah selalu berusaha menyeimbangkan antara kebutuhan keuangan di dunia juga kebutuhan ‘keuangan’ untuk kehidupan akhirat. Kebutuhan ‘keuangan’ di akhirat sangat tergantung perencanaan dan investasi yang dilakukan di dunia. Konsep ini merupakan implementasi hadits yang berbunyi :

“Apabila anak adam (manusia) telah meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara yaitu sedekah jariah (yang pahalanya selalu mengalir), ilmu bermanfaat atau anak shalih yang selalu mendo’akan orang tuanya” HR. Muslim

Berdasarkan hadits tersebut, ada hal yang bisa dipersiapkan sejak dini terutama perencanaan sedekah jariah. Bila selama ini kita beramal hanya berdasarkan ‘suka-suka’ saja, kini saatnya direncanakan. Berapa yang menjadi target amal dan berapa pula untuk kebutuhan hidup. Dengan cara ini amal kita tidak lagi berdasarkan ‘sisa’ uang bulanan tetapi sudah menjadi prioritas. Pay yourself first (bayarlah dirimu lebih dulu) tidak hanya untuk perut saja alias kebutuhan duniawi, tetapi juga untuk kebutuhan ukhrawi (akhirat).

Mengapa kita perlu menetapkan tujuan – tujuan keuangan? Jawabannya sangat sederhana. Manusia memiliki keinginan tidak terbatas, sementara keuangan, kemampuan maupun usia terbatas. Dengan demikian, hal yang bisa dilakukan adalah mengelola keterbatasan itu untuk memperoleh hasil optimal, dengan memperhatikan kaidah SMART (Specific, Measurable, Antusiasme, Realistic, Timely).

Specific

Tujuan perencanaan keuangan harus tertentu dan jelas, misalnya ingin membeli rumah di Pondok Indah – Jakarta. Tujuan yang tidak jelas seperti ingin lebih kaya, hidup lebih baik tidak menggambarkan hal yang lebih spesifik. Hal ini akan berpengaruh pada kegiatan yang akan kita lakukan karena biasanya menjadi tidak terarah dan tidak fokus. Bila kita hanya mengatakan ingin lebih kaya, dengan kondisi keuangan saat ini – misalnya kekayaan kita Rp.5 juta, maka bila tahun depan jumlah kakayaan menjadi Rp.5,1 juta itu sudah lebih kaya, padahal tidak ada pertumbuhan yang signifikan.

Measurable – Terukur

Rumah yang akan dibeli, terukur atau sesuai dengan kemampuan keuangan. Misalnya kita mampu mengumpulkan uang Rp.5 milyar dalam waktu 3 tahun, wajar bila berkeinginan membeli rumah di Pondok Indah – Jakarta. Bila kita memperkirakan hanya mampu membeli di komplek perumahan sederhana, jangan memilih rumah di Pondok Indah yang harganya mencapai milyaran rupiah, dalam waktu cepat.

Attainable – Dapat dicapai

Kita dapat memperkirakan target yang dibuat dicapai dalam waktu tertentu dengan cara mengangsur setiap bulan atau mengharapkan hasil investasi.

Realistic – Realistis

Tujuan keuangan yang dibuat harus realistis, sesuai dengan kemampuan. Ukurannya sangat relatif dibandingkan dengan orang lain. Bila pada tiga tahun mendatang kita bisa membeli rumah 1000 meter persegi di Pondok Indah dari sumber penghasilan saat ini yang rata-rata Rp.200 juta perbulan, maka itu sangat realistis. Berbeda bila tidak memiliki tabungan cukup dan hanya berpenghasilan Rp.10 juta, berkeinginan memiliki rumah tersebut sangat mustahil. Ukurlah kemampuan diri Anda sendiri!.

Eits.. masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

Sumber gambar : Google

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here