Rencana Keuangan 1000 Tahun Part 6 (Menata Ulang Kondisi Keuangan)

0
132

Selamat Pagi Sobat, berikut lanjutan dari bagian artikel sebelumnya ya silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Kita telah melakukan chek up kesehatan keuangan dan menentukan tujuan keuangan. Biasanya terjadi perbedaan antara realitas keuangan dengan kondisi keuangan yang diinginkan (sehingga terjadi gap). Perbedaan itu bisa karena kesalahan dalam melakukan pengelolaan keuangan. Sebagai contoh pada arus kas keuangan keluarga Fulan, angsuran untuk pensiun sebesar Rp.300.000,- setiap bulan. Pertanyaannya, apakah angsuran sebesar itu, Fulan akan mendapatkan hasil pensiun sesuai harapannya? Apakah saat pensiun nanti Fulan akan memperoleh uang minimal sama dengan nilai riil penghasilan saat ini?. Angsuran pensiun Rp. 300.000,- itu bisa sesuai harapan bisa juga tidak. Untuk itulah harus diketahui berapa uang pensiun yang diharapkan kemudian dihitung berapa sebenarnya harus mengangsur agar mendekati harapannya (cara menghitungnya, akan dibahas dalam sub berikutnya). Karena perbedaan – perbedaan seperti itu, maka diperlukan penyesuaian atau penataan ulang. Tentu saja tidak mudah, karena kita harus menyesuaikan dengan realitas keuangan yang seringkali kondisinya sudah parah dan melenceng jauh dari tujuan keuangan. Bahkan untuk perbaikan itu, kita harus melakukan banyak perubahan baik sikap mental maupun pengorbanan lainnya seperti menunda keinginan – keinginan atau harus meniadakan keinginan yang tidak sesuai tujuan keuangan.

Adapun langkah – langkah ‘pengobatan’ yang dapat dilakukan adalah :

  • Prioritas Kebutuhan.

Bila selama ini pengeluaran tidak berdasarkan prioritas, kini saatnya menentukan prioritas keuangan sesuai kebutuhan. Kita harus mampu membedakan kebutuhan yang bisa ditangguhkan, kebutuhan yang harus dipenuhi, kebutuhan mendesak dan lainnya. Kurangi kebutuhan yang tidak perlu dan jangan ragu memangkas pos pengeluaran yang tidak bermanfaat. Bila Anda rajin nonton bioskop setiap minggu sebaiknya dikurangi dengan melihat film – film yang masuk box office saja atau bisa digantikan dengan film-film di TV. Bila selama ini rajin nongkrong di café setiap minggu, bisa dikurangi menjadi 2 minggu sekali, dan akhirnya satu, tiga bulan sekali atau sesuai kebutuhan saja.

  • Tingkatkan Penghasilan.

Kita juga dapat mengevaluasi apakah penghasilan kita sudah cukup wajar atau tidak. Apakah pengeluaran kita sudah terkontrol dengan baik atau tidak. Bila yang terjadi karena penghasilan masih dibawah standar, tidak ada salahnya berpikir untuk meningkatkan penghasilan. Beberapa cara meningkatkan penghasilan seperti kerja sampingan, berbisnis atau mencari tempat kerja baru yang memberikan penghasilan lebih besar.

  • Restrukturisasi Hutang.

Bila angsuran hutang – hutang konsumtif sudah mendominasi pengeluaran setiap bulan, tidak ada pilihan lain, harus segera dilunasi. Bila belum ada uang untuk melunasi, kita bisa melakukan restrukturisasi atau rescheduling (penjadwalan ulang) sehingga mengurangi beban keuangan. Dalam melakukan restrukturisasi maupun penjadwalan ulang, harus diprioritaskan hutang konsumtif berbunga tinggi. Bisa juga dengan cara gali lubang tutup lubang, mencari pinjaman berbunga rendah untuk menutup pinjaman berbunga tinggi. Langkah ini tidak boleh untuk menambah kredit konsumtif atau keperluan yang tidak mendesak.

  • Jual Aset yang tidak perlu

Salah satu tujuan membeli barang adalah membeli manfaat atas barang tersebut. Tetapi seringkali orang membeli barang namun tidak banyak manfaatnya, karena pembeliannya lebih didasarkan nafsu. Dalam teori perilaku konsumen ada beberapa faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian, yaitu pengaruh lingkungan seperti budaya, kelas sosial, pengaruh pribadi, keluarga dan situasi. Serta perbedaan individu seperti kepribadian, gaya hidup, demografi, motivasi, keterlibatan, pengetahuan dan sikap. Sedangkan niat membeli bisa terjadi karena adanya perencanaan atau tidak terencana (impuls buying). Pembelian akibat impuls buying ini sering terjadi. Orang sering terdorong membeli barang tanpa berpikir panjang, hanya karena dorongan tiba – tiba karena pengaruh iklan, display yang menarik, ikut -ikutan dan lain sebagainya. Bila kita terlanjur memiliki barang – barang kurang bermanfaat, ada baiknya barang tersebut dijual (bila memungkinkan), untuk memperbaiki kondisi keuangan. Kedepannya kita harus selektif membeli barang. Setelah melakukan perhitungan dan pengalokasian keuangan sesuai dengan tujuan keuangan yang seharusnya, maka langkah selanjutnya membuat kembali CATATAN ASET dan KEWAJIBAN serta ARUS KAS KEUANGAN baru (setelah perbaikan) yang bentuknya seperti di atas.

Eits.. masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

Sumber gambar : Google

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here