Saat Para Pemuda Hijrah dari Keterpurukan dan Mengaji di Warteg Joni Abadi

0
1942

Bandung – Tren positif baru muncul di kalangan anak muda Bandung. Mereka yang dulu sibuk dengan urusan hura-hura, kini rajin berdakwah di gerakan pemuda hijrah. Salah satunya lewat warteg Joni Abadi.

Sekilas tak ada yang istimewa dari VW Combi merah yang mejeng di pinggir Jalan Ciujung, Kota Bandung itu. Di pinggirnya, ada spanduk yang bertuliskan ‘Joni Abadi’. Mobil VW itu menjual makanan dengan menu warteg.

Adalah Ricky Ricarvy Irawan (31) pemilik warteg di dalam mobil atau warteg keliling tersebut. Bermula dari kegemarannya makan makanan warteg, muncul ide untuk membuat bisnis warteg dengan sensasi berbeda. Dia sempat terpuruk, namun bangkit setelah mengenal para pemuda hijrah. (Tentang Para pemuda Hijrah, eks Vokalis sampai eks preman)

“Setelah usaha saya bangkrut, saya membaktikan diri di Masjid Al Lathief, sering masak buat yang buka puasa, akhirnya disuruh jualan. Ini investasi dari temen-temen,” ungkapnya.

Seorang temannya yakni eks vokalis Jeruji, Donny, meminjamkan mobil VW Combi tersebut yang dinamai Joni. Si Joni inilah yang disulap menjadi warteg keliling. Nama Joni Abadi juga berasal dari nama mobil, sementara Abadi adalah nama khas warteg yang sudah ada.

“Saya emang suka makan warteg. Jadi kepikiran aja kenapa enggak jualan warteg tapi pake mobil. Karena kita ngejarnya event-event juga. Kalau mobile kan gampang pindah-pindahnya,” ujar pria yang pernah mengikuti ajang Master Chef Indonesia tersebut.

Setiap hari, mobil warteg ini ada di Jalan Ciujung mulai pukul 10.30 WIB sampai sore atau menjelang magrib. Saat waktu Salat, mobil warteg ini tutup untuk sementara.

Ada sekitar 15 menu yang dihadirkan untuk mengisi perut kosong. Paket lengkap, cukup membayar maksimal Rp 17 ribu.

“Favoritnya cumi, kentang mustopa, opor ayam. Yaa menu-menu warteg saja. Rata-rata bayar Rp 15 ribu, maksimal paling mahal Rp 17 ribu itu udah lengkap semua,” ungkap mantan pengusaha oleh-oleh Bandung tersebut.

Meskipun berada di pinggir jalan yang cukup ramai dengan lalu lalang kendaraan. Namun warteg mobil Joni Abadi ini tetap bersih. Makanan disimpan di mobil dalam wadah yang tertutup rapat.
Mengaji di Joni Abadi

Ricky adalah salah satu anggota Shift yang merupakan gerakan Pemuda Hijrah. Sempat mengalami bangkrut dari usaha oleh-oleh Bandung, Ricky bertekad untuk berjualan dengan lebih banyak keberkahan di dalamnya.

“Jadi saya tuh kan join di shift Monday. Kita minimal baca Al Quran satu hari 1 juz, kita bosen kalau baca Al Quran di masjid inginnya nongkrong di luar. Pengen sambil ngopi dan makan,” ungkap warga Sukaasih tersebut kepada detikcom.

Dari situlah timbul ide untuk memfasilitasi teman-temannya yang gemar mengaji tapi juga gemar nongkrong. Warteg kelilingnya, akhirnya menjadi tempat berkumpul sambil mengaji bersama teman-temannya.

“Dari situ kepikiran memfasilitasi orang-orang yang suka baca Al Quran di tempat makan selain di cafe. Kalau di cafe kan kadang tv nyala, ada musiknya juga. Jadi saya fasilitasi di sini,” ungkap Ayah dari satu anak tersebut.

Karena itulah warteg Joni Abadi tak hanya ramai untuk makan saja. Tapi juga ramai dengan lantunan ayat suci Al Quran.

“Saya ngambil berkahnya dari lantunan ayat suci,” tandasnya.

Para pengunjung warteg yang kebanyakan teman-teman seperjuangan Ricky begitu khusyuk membaca Al Quran kecil di tangannya. Mereka tak terganggu suasana ramai jalanan. (avi/mad)

Pemilik warung Joni Abadi adalah pengusaha yang bangkrut akibat hutang riba. Baca juga kisahnya : Terpuruk-karena-riba-warteg-joni-mulai-bangkit-dengan-gratiskan-makan-setelah-baca-quran-2-juz

Sumber. Detikcom 29 Januari 2016

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here