Sekolah Saja Belum Cukup (Part 1)

0
289

Selamat Pagi Sobat, apakah anda ingin kaya tanpa bekerja ? jika ya, yuk silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

“Ketika aku masih sangat belia, aku berhenti belajar dan lari dari pelajaranku. Aku melarikan diri dari kelas-kelas yang mengajar tapi tidak mengilhamiku. Langkah itu telah menyelamatkanku dan aku mendapatkan semua yang kuperoleh kini berkat langkah yang berani itu”

Rabindranath Tagore, pujangga India

 

Tidak cukup Tagore yang berani mengkritik sistem pendidikan, tetapi banyak pemikir atau tokoh sukses yang memiliki pemikiran senada. Simak saja buku Rich Dad Poor Dad yang ditulis Robert T. Kiyosaki bersama seorang akuntan publik Sharon Lechter, dengan suguhan menarik dan provokatif. Dalam Introduction, Lechter menuturkan perjumpaannya dengan Kiyosaki hingga menjadi ‘pengikut’. Lechter dibesarkan dengan ajaran klasik dari mayoritas orang tua pada masanya dengan ajaran “Pergilah ke sekolah, belajarlah yang giat, raihlah ranking yang tinggi dan carilah pekerjaan yang aman dan terjamin’.

Ajaran ini oleh Lechter hendak diajarkan kembali kepada putrinya dengan cara yang sama. Namun pada 1996 ia mendapatkan kesulitan untuk mempertahankan argumentasi dari ajaran itu ketika sang putri yang masih remaja SMU bertanya : ”Mengapa saya harus menghabiskan waktu untuk mempelajari pelajaran yang tidak akan pernah saya gunakan dalam kehidupan nyata sehari-hari?” katanya memprotes. Sang ibu menjelaskan, namun jawaban – jawabannya selalu dimentahkan oleh sang anak. “Tak peduli apakah saya akan kuliah di perguruan tinggi atau tidak, saya akan kaya”, cetus sang puteri.

“Tapi bagaimana kamu akan menjadi kaya kalau tidak masuk perguruan tinggi, kamu tidak akan mendapatkan pekerjaan yang baik? kata sang ibu khawatir. “Bu, lihatlah sekeliling kita. Orang menjadi kaya tidak hanya disebabkan karena pendidikan formal yang dimiliki. Lihat Michael Jordan dan Madonna. Bahkan Bill Gates keluar dari Universitas Harvard dan mendirikan Microsoft. Sekarang ia adalah orang paling kaya didunia. Bahkan ada seorang pitcher bisbol yang menghasilkan lebih dari 4 juta dolar setahun meskipun ia telah di cap ‘diragukan secara mental’”, jawab sang anak dengan jurus mematikan.

Mencermati sebagian dialog maupun isi dari buku-buku Kiyosaki memang cukup provokatif. Bagi yang tidak sependapat akan memberikan berbagai argumen untuk mementahkannya,namun bagi yang pro menilai pandangan Kiyosaki, pria keturunan Jepang – Amerika ini sebagai sesuatu yang relevan dengan kondisi peradaban saat ini. Saya pribadi, yang juga dilahirkan dalam lingkungan pendidikan serba feodal, patternalistik serta

‘mendewa-dewakan gelar akademik’ untuk mendapatkan pekerjaan, menilai pendapat itu banyak relevansinya.

Meskipun demikian saya tidak menyarankan anda untuk drop out dan langsung mendirikan usaha, karena bagaimanapun sekolah tetap diperlukan, dengan berbagai kekurangan yang harus kita perbaiki bersama. Memiliki pendidikan tinggi dengan gelar kesarjanaan tidak ada salahnya. Oleh karena itu, saya hanya ingin mengajak pada masyarakat untuk segera menyadari bahwa tujuan pendidikan bukanlah untuk menjadikan siswa cepat meraih sukses atau kaya melalui gelar yang disandangnya. Dengan demikian, tujuan pendidikan mulai dari SD – Perguruan Tinggi harus didasarkan pada niat untuk belajar mengembangkan bakat serta kecerdasan, tidak semata-mata untuk mencari pekerjaan. Bila tujuan dan niat sekolah hanya untuk mendapatkan pekerjaan tertentu, kita akan semakin kecewa manakala sudah lulus sekolah dan sulit mendapatkan perkerjaan bahkan tidak mendapatkan sama sekali.

Saya juga ingin mengatakan bahwa untuk mendapatkan pekerjaan, kesuksesan atau kekayaan, sekolah bukanlah satu – satunya cara. Banyak cara diluar sekolah formal yang dapat digunakan untuk meraihnya. Kehidupan dan pengalaman, apa pun yang berada di sekitar kita merupakan guru terbaik untuk meraih kesuksesan. Sekolah dengan sistem pendidikannya, ternyata tidak mengajarkan seseorang untuk bertahan hidup mandiri di dunia nyata, serta memanusiawikan dirinya (memaksimalkan potensi secara holistic) karena sekolah hanya mengajarkan untuk mendapatkan nilai dan ranking bagus sebagai cara terbaik untuk bertahan hidup. Ilmu yang diajarkan disekolah hanya mata pelajaran yang kurang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Artis Neno Warisman, dalam wawancara di salah satu harian umum Republika (14-04- 2004) bahkan mengatakan prihatin dengan banyaknya pelajaran yang tak berguna yang dijejalkan ke dalam otak generasi muda Indonesia. Sementara Direktur Eksekutif Indonesia Heritage Foundation (IHF) Ratna Megawangi dalam sebuah seminar “Pro Kontra Kurikulum 2004 : Adakah Peluang bagi Pembelajaran Holistik?” di Bandung awal Juni 2004 juga menilai bahwa sistem pendidikan kita telah menyebabkan anak didik menjadi bosan dalam kelas. Ia menyatakan bahwa sejak kelas 1 SD sampai SMA bahkan ada yang sampai Universitas, para siswa dipaksa duduk diam mendengarkan guru, mencatat, tanpa dialog interaktif antara guru dan siswa. Selain itu siswa juga disuruh menghafal mata pelajaran yang abstrak, sehingga menghasilkan generasi robot. Oleh karena itu, saya menilai wajar bila di kalangan siswa sering terdengar celotehan,“Makan tuh……. rumus-rumus!”, atau kata-kata sejenis yang mengekspresikan betapa pelajaran yang mereka terima lebih banyak bersifat menghafal dan monoton. Sekolah juga lebih menekankan ‘grade minded’ untuk menentukan prestasi dan kelulusan siswa.

Pro – kontra disertai demo yang menentang pemberlakuan passing grade Ujian Akhir Nasional (UAN) sebesar 4.01 untuk tahun 2004 dari 3.01 pada UAN 2003, berita bocornya soal UAN serta konversi nilai UAN juga menunjukkan buruknya sistem pendidikan kita. Ironisnya lagi, banyak kejadian memilukan akhir – akhir ini seperti kasus bunuh diri seorang siswa di Bandung hanya karena tidak mampu membayar uang sekolah atau percobaan bunuh diri siswa di Kendal Jawa Tengah dan perbuatan anarkis di Kupang Tengah – Nusa Tenggara Timur akibat tidak lulus UAN. Ini semua karena kegagalan pendidikan dalam mendidik mental spiritual (yang selama ini lebih banyak dihafalkan dari pada praktek) dan pengembangan kecerdasan emosi, termasuk menyikapi kekalahan atau kegagalan. Dalam bahasa Adi Kurdi, artis pemeran Abah dalam sinetron Keluarga Cemara, pendidikan kita telah melawan kodrat karena pendidikan di Indonesia hanya menjadikan anak-anak mengalami kekosongan dalam hidupnya.

Eits.. masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here