Sekolah Saja Belum Cukup Part 2 (Keberhasilan)

0
147

Selamat Pagi Sobat, apakah anda ingin kaya tanpa bekerja ? jika ya, yuk silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Oleh karena itulah, diperlukan pendidikan yang tidak hanya mengarah pada peningkatan Intelligence Quotient / IQ) semata, karena untuk mencapai kesuksesan hidup sangat diperlukan faktor lain seperti kecerdasan emosional (Emotional Quotient, EQ) dan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient, SQ). Konsep terbaru yang dikembangkan oleh Ary Ginanjar Agustian menambah Emotional Spiritual Quotient (ESQ) sebagai landasan yang komplit. Penelitian Daniel Goleman dalam buku Emotional Intelligence menyebutkan bahwa kontribusi IQ terhadap kesuksesan hidup paling banyak dua puluh persen dan delapan puluh persen sisanya ditentukan oleh faktor-faktor lain yaitu sehimpunan faktor yang disebut kecerdasan emosional.

“Apa yang saya temukan, secara konsisten, bahwa dari semua faktor yang terlibat dalam keberhasilan keuangan, kerja keras adalah yang pertama dan lulus dengan nilai top ada di peringkat terakhir ………… Kebanyakan miliuner mendapat nilai ‘B’ dan ‘C’ di kampus ………..

IQ bukan indikator sukses. Miliuner membangun kerajaannya dari kreativitas dan akal sehat”

Thomas Stanley, Penulis buku The Millionaire Mind

Bahkan menurut Larry Ellison, orang kedua terkaya di dunia yang juga CEO Oracle Corp., dalam sebuah pidato ‘sarkastik’ di hadapan wisuda Kelas 2000 Yale University AS, mereka yang sudah ‘telanjur’ kuliah atau lulus sarjana merupakan orang-orang yang ‘terlambat’ untuk menjadi kaya atau sukses, karena rata-rata miliuner memulai karirnya sejak usia 19 tahun dan drop out dari sekolahnya. Inilah cuplikannya :

“…. Because I, Lawrence ‘Larry’ Ellison, second richest man on the planet, am a college drop out, and you are not. Because Bill Gates, richest man on the planet – for now, any way – is a college drop out, and you are not…………………………………………………………. Finallay, I realize that many of you,

are wondering, “Is there anything I can do? Is there any hope for me at all? Actually, no. It’s too late. You’ve absorbed too much, think you know too much. You’re not 19 anymore. You have a built-in cap, and I’m not refering to the mortar boards on your heads……………………………………………………………… ”.

 

Pandangan Ellison mungkin ada benarnya karena kadang – kadang pendidikan tinggi (dengan berbagai gelar akademiknya) justru menjadi penghalang untuk maju, karena kita malu dan tidak mau mengerjakan hal-hal yang dianggap ‘remeh dan kecil’, padahal hal itu akan membantu kesuksesan. Banyak bukti mengenai hal ini. Salah satu orang yang mau mengerjakan pekerjaan ‘kecil’ misalnya H. Muh. Amin Rahim – 48 tahun, seorang pengusaha makanan khas Makassar (Coto, Konro) Mamink Daeng Tata’.

Ia adalah anak pengusaha sukses di Makassar. Lulusan sebuah perguruan tinggi di Makasar dan mantan ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) periode 1986 – 1988 ini, memulai usahanya tahun 1989 dengan berdagang di pinggir jalan sebagai pedagang kaki lima. Ia tidak merasa malu, justru orang tuanya keberatan atas usaha yang dianggap ‘remeh’ itu. Ia tetap berjuang, kerja keras sampai akhirnya cukup berhasil dengan memiliki tiga cabang yaitu dua cabang di Jl. Casablanca dan Jl. Tebet Utara I – Jakarta dengan jumlah pelanggan rata-rata 1000 orang perhari. Dengan asumsi setiap konsumen mengeluarkan dua puluh ribu maka omset setiap bulan dapat mencapai enam ratus juta rupiah.

Sekolah tinggi kadang juga membuat kita merasa sudah ‘berhasil’, sehingga berhak mendapatkan dengan mudah apa yang kita inginkan tanpa harus berjuang lagi. Padahal dalam seluruh aspek kehidupan tidak ada yang gratis, tetapi harus diraih dengan kerja keras dan pengorbanan. Kita lupa bahwa sukses disekolah dengan nilai baik adalah satu sisi keberhasilan

di dalam kelas, tetapi masih diperlukan keberhasilan dalam dunia yang lain. Disinilah peran EQ sangat menonjol.

“Anda membutuhkan pengetahuan untuk lulus ujian di sekolah, namun anda membutuhkan hikmat untuk lulus dalam ujian kehidupan”

Dr.Adriam Rogers Ivan Illich seorang penulis buku Deschooling Society sebagaimana dikutip oleh Muhammad Muhyidin dalam buku Mengubah Kebiasaan, dengan bahasa yang ‘kasar’ mengatakan bahwa sekolah telah membuat orang – orang miskin tidak mampu membedakan proses dan substansi. Mereka menyampurkan kedua hal ini, sehingga memunculkan logika baru bahwa pengajaran yang semakin banyak akan mendatangkan hasil yang semakin baik atau semakin ditambahnya materi pengetahuan, maka hal ini akan menjamin adanya keberhasilan.

Bila demikian, untuk mencapai keberhasilan atau sukses, seseorang tidak perlu harus sekolah tinggi dan memiliki nilai atau ranking bagus karena memang itu tidak menjamin?. Pendidikan tinggi (dengan berbagai gelar kesarjanaan) jangan sampai menentukan apa yang akan kita dapatkan tanpa proses perjuangan, serta menjebak dalam paradigma lama : LULUS SEKOLAH, MENJADI PEGAWAI, PEGAWAI dan PEGAWAI. Demikian juga, bagi yang berpendidikan rendah jangan merasa minder dan menjadikan pendidikan sebagai halangan untuk meraih sukses. Kita harus mengubah paradigma bahwa tujuan sekolah adalah mengembangkan kemampuan potensi terbaik dalam diri dan bukan semata-mata untuk mendapatkan nilai bagus diatas kertas.

Perubahan paradigma ini harus segera dilakukan karena pergerakan ekonomi berubah begitu cepatnya. Bangsa ini membutuhkan orang – orang yang mampu menciptakan pekerjaan, bukan orang – orang yang membebani negara karena harus menyediakan lapangan pekerjaan bagi ‘pengangguran intelektual’. Bila mental, naluri bisnis dan pendidikan ‘melek’ finansial sejak awal sudah dipersiapkan dengan baik, maka setelah lulus sekolah / kuliah, kita tidak perlu bingung lagi, ke sana ke mari mengirim ratusan surat lamaran kerja. Kita sudah memiliki mental sukses atau menjadi pengusaha dan siap memulai usaha dengan semangat.

Eits.. masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here