Semakin Banyak Berbagi, Semakin Banyak Menerima Part 1 (Matematika Manusia Tidak Sama Dengan Matematika Allah)

0
85

Selamat Pagi Sobat, berikut lanjutan dari bagian artikel sebelumnya ya silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

“All that I give is given to my self. To give is to receive” Apa yang saya berikan (kepada orang lain) sesungguhnya manfaatnya akan kembali untuk diri saya sendiri. Memberi berarti menerima. Demikian kata Gerald G. Jampolsky, penulis buku Love is Letting Go of Fear. Demikian juga yang dikatakan oleh David Cameron, CEO Images OfOne.com, sekaligus penulis buku Raising Humans and Happy Pocket Full of Money. Dia menulis, memberi itu menyebabkan memiliki. “To have all, give all to all”. Kesaksian–kesaksian itu dikutip oleh Ahmad Riawan Amin – Direktur Utama Bank Muamalat dalam bukunya yang berjudul The Celestial Management.

Menarik sekali apa yang mereka (penulis barat) katakan itu. Sayangnya, tidak ada hal baru dari mereka. Semuanya sudah jelas tertuang dalam Al-Quran dan hadits. Bahwa salah satu faktor yang menjadikan bisnis sukses, harta berkembang biak dan beranak pinak, apabila kita mau berbagi, membayar infaq, zakat dan sedekah. Lho kok bisa? Dalam hidup ini, kadang kita harus percaya pada hal – hal yang sifatnya ghaib, tidak hanya yang terlihat kasat mata saja.

Bagaimana mungkin pengeluaran berupa infak, zakat dan sedekah (ZIS) bisa melipatgandakan harta? Bukankah infak, zakat dan sedekah bukan termasuk investasi yang langsung menghasilkan dan dapat diketahui return-nya seperti deposito, reksadana, saham dan produk investasi lainnya? Bukankah kegiatan itu hanya mengurangi uang kita? Disinilah kita harus menyadari bahwa matematika kita tidak sama dengan matematika Allah . Bila kita mengatakan lima dikurangi tiga sama dengan dua, maka matematika Allah menyatakan lima dikurangi tiga sama dengan seribu empat ratus. Allah berjanji akan memberikan pahala zakat, infaq, dan sedekah sampai berlipat tujuh ratus kali.

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha luas, Maha Mengetahui”.

Q.S Al – Baqarah (2) : 261

Hadits Rasulullah pun banyak yang menunjukkan bertambahnya rejeki dengan cara bersedekah. Diantaranya, “Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Allah telah berfirman : ‘Wahai anak Adam! Infakkanlah hartamu, Aku akan menambah hartamu”. Pada kesempatan lain, Rasul berjanji, ”Ada tiga hal, aku berjanji tentang tiga hal itu (bahwa ketiga hal itu benar) dan aku akan menceritakannya padamu, maka ingat-ingatlah! Uang tidak akan pernah berkurang karena amal sedekah. Tidak akan ada seorang pun yang berbuat salah manakala ia sabar, kecuali Allah akan menambah kemuliaannya dan tidak ada seorang pun yang meminta rejeki pada orang lain, kecuali Allah akan memiskinkannya” (HR At-Tirmidzi dan Ahmad).

Lalu bagaimana janji – janji Allah tersebut dapat diterima oleh logika akal? Mudah– mudahan uraian berikut dapat menjelaskan hal itu. “Allah memberikan rezeki (materi) kepada manusia melalui manusia yang lain, tidak diturunkan langsung dari langit. Buktinya kita mendapatkan proyek / pekerjaan dari orang lain. Kita mendapatkan uang juga dari konsumen / pelanggan, dan sebagianya. Bukti lainnya, dalam konsep harta menurut Islam, harta atau rezeki yang kita peroleh di dalamnya terdapat titipan atau hak orang lain. Nah, berkenaan dengan itu kita semua sebenarnya telah diangkat oleh Allah untuk menjadi ‘distributor’ rezeki. Allah sebagai pemilik rezeki, berhak memilih orang – orang yang bisa dipercaya, agar proses distribusi rezeki di muka bumi ini berjalan baik. Untuk itu Allah menguji, sebelum kita benar – benar dijadikan ‘distributor’ besar (kaya raya). Salah satu caranya dengan memberikan rezeki secara bertahap, mulai dari kecil. Ketika kita sudah amanah, menjadi ‘distributor’ yang baik (menyampaikan hak fakir miskin dan banyak bersedekah) maka Allah akan meningkatkan rezeki kita. Begitu seterusnya sampai tidak terbatas (kaya raya)”.

Model yang diterapkan Allah seperti itu menunjukkan bahwa Allah ingin memberikan pelajaran kepada kita bahwa hidup di dunia ini tidak bisa lancar bila dikerjakan sendirian tetapi perlu kerjasama atau bekerja secara tim. Perhatikan saja, Allah juga membentuk ‘tim kabinet’ dalam mengatur dunia ini, jumlahnya ada 10 yaitu para malaikat. ‘Program kerja’ Allah di dunia diterjemahkan oleh nabi yang pesannya disampaikan langsung malaikat Jibril. Sedangkan ‘menteri’ perekonomian (pembagi rezeki) dijabat oleh malaikat Mikail. Untuk urusan catat – mencatat amal oleh malaikat Rokib – Atib, dan seterusnya.

Eits.. masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

Sumber gambar : Google

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here