Semakin Banyak Berbagi, Semakin Banyak Menerima Part 3 (Uang Berpihak Pada Orang Bijak)

0
950

Selamat Pagi Sobat, berikut lanjutan dari bagian artikel sebelumnya ya silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Pada tahun 2000 lalu, teman – teman di kantor tempat saya bekerja, rame-rame menginvestasikan uangnya pada salah seorang rekan yang juga sekantor, dengan bunga tetap (fixed) sebesar 10 persen setiap bulan. Uang itu oleh si Bimasakti – sebut saja namanya begitu, diinvestasikan pada pasar saham. Dana yang terkumpul saat itu mencapai milyaran rupiah, karena diantara mereka ada yang menginvestasikan sebesar Rp.500 juta. Singkat cerita, bulan pertama kerjasama ini berjalan lancar. Bulan kedua, ketiga hingga bulan ketujuh masih lancar pembayaran bunganya. Melihat ‘peluang’ investasi yang demikian menggiurkan itu, para investor menambah uangnya. Bahkan uang hasil investasinya tidak diambil tetapi diakumulasikan dengan investasi pokoknya.

Setelah sekian bulan kerjasama itu berjalan lancar, pada bulan berikutnya mulai ‘batuk – batuk’ alias pembayaran bunganya tersendat sampai akhirnya macet. Bimasakti melarikan diri hingga saat ini tidak diketahui dimana keberadaannya. Uang investor hilang, investasi tidak jadi untung tetapi malah buntung!. Ini adalah sepenggal cerita, dimana di dunia ini masih banyak orang – orang yang tidak bijaksana dalam mengelola uangnya. Saya mengatakan tidak bijaksana karena hasil yang dijanjikan oleh pengelola uang, si Bimasakti, sebesar 10 persen, tidak wajar. Bagaimana mungkin investasi dalam setahun menghasilkan 120 persen? Memang dalam dunia investasi berlaku hukum high risk high return (semakin tinggi risiko, semakin tinggi peluang hasilnya). Namun kita harus tetap bijaksana dalam menilai investasi yang ditawarkan. Logikanya, investasi dengan penghasilan tetap 10 persen per bulan adalah tidak rasional, meski dalam perdagangan saham dimungkinkan mendapatkan hasil sampai 100 persen dalam setahun. Tetapi hasil sebesar itu tidak dapat dipastikan, sebab peluang rugi besar juga sangat mungkin.

Uang akan ‘kerasan’ atau ‘betah’ bilamana kita bisa memperlakukannya secara bijaksana. Karena ditangan orang – orang yang bijaksana, uang juga akan diperlakukan dengan bijaksana pula. Orang bijaksana tidak pelit, juga tidak boros. Mereka berhati – hati dalam membelanjakan uang termasuk dalam berinvestasi dan berhati – hati pula dalam mendapatkan uang. Berhati-hati mendapatkan uang berarti memperhatikan rambu – rambu atau norma, sehingga dalam jangka panjang uang juga akan percaya padanya. Bagi orang yang tidak berhati-hati dalam mendapatkan uang, suatu saat uang akan lari darinya karena akan mendapatkan masalah dengan sikapnya itu. Uang akan habis untuk membiayai masalahnya. Itulah yang sering terjadi. Sebagai contoh, orang yang tidak bijak dalam mendapatkan uang adalah para koruptor, maling, penipu dan lainnya.

Orang bijak, selalu berorientasi jangka panjang. Salah satu sikap paling penting agar sukses finansial adalah berpikir jangka panjang. Dengan berpikir jangka panjang, perbuatan dan langkah kita akan diperhitungkan secara matang dengan perencanaan yang baik. Kita harus memiliki keyakinan bahwa hidup kita saat ini sebenarnya hanyalah merupakan hasil dari serangkaian pikiran, langkah dan tindakan masa lalu. Bila saat ini menjadi seorang sarjana itu karena kita telah menyelesaikan kuliah di masa lalu. Bila saat ini kita menjadi pegawai, artis, pengusaha atau pekerjaan lainnya, itupun karena pilihan kita dimasa lalu. Demikian juga bila sukses finansial dan menjadi kaya, itu pun dari serangkaian tindakan kita yang bekerja, menabung dan mengelola penghasilan dengan baik di masa lalu. Bayangkan bila saat itu uang yang kita peroleh dihabiskan begitu saja untuk kesenangan sesaat, tentu kita tidak sekaya saat ini. Dan seterusnya, masih banyak contoh lain. Itulah sebabnya, dalam setiap cerita orang – orang sukses ataupun orang – orang kaya, mereka selalu meraihnya dalam waktu panjang. Jarang sekali yang mendapatkannya dalam waktu singkat, kecuali mendapatkan lottre atau warisan.

Orang bijak memahami betul bahwa uang itu mudah habis. Semua orang tentu sepakat bahwa uang mudah habis, sementara bagi sebagian besar orang mencari uang sangat sulit namun bagi sebagian lain, yang sudah mengetahui ‘jalan’nya mendapatkan uang itu sangat mudah, Dalam pepatah Jepang dikatakan, “Mencari uang bagaikan menggali dengan satu paku, sedangkan menghabiskan uang bagaikan menuangkan air ke pasir”. Itulah sebabnya kita harus memperlakukan uang dengan bijaksana!. Dalam buku Finansial Sukses tulisan Brian Tracy, disebutkan Hukum Parkinson yang mengatakan bahwa berapapun jumlah uang yang diperoleh seseorang, mereka cenderung lebih banyak menghabiskan dari pada menabungnya. Pengeluaran semakin bertambah seiring jumlah penghasilan. Banyak penghasilan orang saat ini berlipat kali dari gaji pertama, namun mereka tetap saja merasa kurang. Berapapun penghasilan yang diperoleh, manusia tidak merasa cukup. Berdasarkan hukum tersebut, Brian Tracy mengemukakan dua akibat yaitu : “Ketergantungan keuangan berasal dari penyimpangan Hukum Parkinson”. Inilah alasan munculnya hutang, takut tidak punya uang, dan frustasi. Kita akan sukses hanya jika mampu mencegah godaan menghamburkan uang sehingga bisa mengelola uang dengan bijak. Sedangkan akibat kedua adalah, “Jika bertambahnya pengeluaran lebih kecil daripada kenaikan pendapatan dan sisa uang bisa ditabung atau diinvestasikan, maka kita akan kaya raya”. Inilah kuncinya!. Dengan melanggar hukum Parkinson, maka kita sebenarnya bisa menjadi kaya raya.

Uang juga akan berpihak pada orang – orang yang berpikir kaya. Karena orang – orang kaya berpikir bagaimana memperoleh kekayaan, bagaimana menggunakan dan mensyukuri yang ada dan bagaimana merealisasikan keinginan – keinginan yang dicita-citakan. Dengan sikap ini, maka langkah yang akan diarahkan menjadi lebih positif. Berbeda dengan orang – orang miskin. Apa yang dipikirkan orang miskin? Mereka memenuhi pikirannya dengan kekurangan, kelangkaan dan ketidakmampuan. Mereka merasa tidak mempunyai meski dia sudah memiliki, mereka merasa tidak mampu meski sebenarnya mereka mampu. Mereka menyalahkan orang lain atau harga-harga barang yang dinilainya terlalu mahal, sehingga tidak ada waktu untuk memikirkan bagaimana mengatasi keterbatasan yang ada, tetapi lebih banyak menyalahkan kondisi yang ada.

Eits.. masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

Sumber gambar : Google

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here