Siapa Bilang, dalam Keluarga, Cinta Lebih Penting dari Uang?

0
1129
Ketika masih pacaran, mungkin Anda tak pernah membayangkan kalau masalah uang bisa menjadi pemicu pertengkaran dengan pasangan. Apalagi sampai berujung perceraian. Nyatanya, sekarang  tiap hari ada saja yang membuat Anda atau suami mengomel gara-gara tak sepakat dalam hal keuangan. Capek, deh….
Soal keuangan ternyata memang bukan masalah sepele. Penelitian Utah State University, AS, (2009) menemukan, pasangan yang seminggu sekali ribut soal uang, kemungkinannya bercerai lebih besar 30% dari mereka yang hanya meributkannya satu kali sebulan. Di Indonesia, menurut perencana keuangan Mike Rini Sutikno, CFP, memang agak berbeda dengan di Barat. “Tapi, tetap berpotensi mengganggu hubungan cinta Anda berdua, lho,” kata Mike. Apa saja, sih, masalahnya?
1. Punya Prioritas Nggak?
Rumah ada, tiap minggu bisa ke kafe, pakaian pun mengikuti item fashion terkini. Tapi… bagaimana dengan tabungan? Jangan buru-buru bilang tidak punya uang sisa untuk ditabung. Justru, tiap kali gajian, yang pertama kali dilakukan adalah menyisihkan dana untuk ditabung. Baru sisanya dibagi untuk kebutuhan keluarga dan memenuhi gaya hidup.
Begitu hampir 30% pendapatan Anda berdua sudah dialokasikan untuk asuransi dan tabungan, berarti ada pos-pos lain yang harus dihemat. Misalnya, mengurangi biaya makan siang dan liburan keluarga. “Namun, dibutuhkan komitmen dari Anda dan pasangan. Jika suami sudah rela membawa bekal makan siang, ya, Anda harus mau membantu menyiapkannya.  Begitu juga dengan suami, kalau sudah membawa bekal, jangan makan di luar sehingga masakan Anda terpaksa dibuang,” tutur Mike. Intinya, sama-sama harus menghargai komitmen.
2. Merasa Kurang Terus
Budaya di Indonesia adalah suami sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga. Suami menyerahkan semua gajinya untuk Anda kelola. Setelah itu, cukup atau tidak cukup, Anda yang mengaturnya. Nah, yang jadi masalah adalah, “Karena merasa tidak cukup, si istri menyampaikannya tidak dengan cara yang manis. Di sisi lain, pasangan juga tak begitu saja menerimanya, karena ia merasa, mencari uang itu tidak mudah. Akhirnya, ribut, deh,” kata Mike.
Karena itu, Anda berdua harus saling menghargai apa yang telah dilakukan masing-masing. Anda mengerti, suami sudah bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Suami pun harusnya paham, Anda juga lelah mengelola keuangan rumah tangga. Mencoba memandang dari kacamata posisi pasangan bisa membantu memahami situasinya.
3. Lupa Tugas 
Anda dan suami bertukar peran? Mengapa tidak! Anda boleh saja menjadi breadwinner. “Namun, nilai-nilai masyarakat kita masih memandang bahwa semaju apa pun karier Anda, wanita tetap seorang istri dan ibu yang harus merawat keluarganya,” tutur Mike. Pulang malam, kalau memang harus, sesekali boleh saja. Namun, kalau tiap hari harus lembur, jangan-jangan itu karena Anda belum memiliki manajemen waktu yang baik? Atau, sering menolak bercinta karena kelelahan? Hmm…  kalau itu terus-menerus terjadi, pasti bisa menjadi sumber keributan, bukan? Karena itu, di sini pentingnya berbagi peran. Sebagai partner, ajak suami ikut serta bertanggung jawab dalam urusan rumah tangga. Sekali-sekali mencuci piring, tak ada salahnya, ‘kan?
4. Aku Punya Rahasia!
Berahasia dengan pasangan jelas tidak baik, termasuk dalam urusan keuangan. Misalnya, Anda baru saja berinvestasi yang cukup besar di pasar saham karena tertarik pada  keuntungannya yang menjanjikan. Tapi, Anda tidak diskusi dulu dengan pasangan, dan merahasiakannya. Atau, suami diam-diam mengambil uang tabungan untuk membantu keluarganya. Akhirnya, ketika semua rahasia itu terbuka, terjadilah ‘perang dunia’ karena merasa dikhianati.
Supaya tidak berpotensi terjadi keributan, bicarakan masalah keuangan ini berdua dan membuat target bersama. “Misalnya, kalau ada yang mendapat rezeki lebih, masukkan sebagian ke tabungan pendidikan anak. Hindari menuduh sebelum mengetahui persoalannya,” kata Mike.
Tapi, kalau kadung terjadi, daripada gondok terus, fokuslah pada  perbaikan, dengan menyempatkan diri untuk  rapat mengenai keuangan seminggu sekali. Ada trik penting agar ‘meeting’ sukses, yaitu jangan mengobrol saat sama-sama lelah ketika pulang kantor. Tunggu dulu sampai sama-sama cukup istirahat, baru mulai bicara. Jika Anda memang tertarik pada satu produk investasi, tunjukkan brosurnya. Biarkan ia membaca. Jadi, ia akan mengerti mengapa Anda menginginkannya.
5. Gesek dan Gesek Lagi
Kartu kredit adalah alat bantu. Gunakan saat Anda tak memiliki uang tunai. Namun, jangan biarkan itu menjadi utang. Segera bayarkan kembali sejumlah yang Anda gunakan tadi sebelum berbunga. “Tak hanya itu, kartu kredit juga boleh, kok, dipakai, jika memang bisa menguntungkan Anda. Misalnya, memanfaatkan diskon untuk membeli sesuatu, atau saat Anda makan di luar. Tapi, tetap harus dibayar seperti biasa, ya,” kata Mike. Biasakan berbelanja keperluan keluarga dengan uang tunai atau debit.
6. Usia Terus Bertambah, Lho
“Ini hal penting yang jarang disadari, yaitu dapat mengidentifikasi kebutuhan setiap periode usia hidupnya,” kata Mike. Misalnya? Di usia awal pernikahan, pasangan hendaknya sudah punya rencana keuangan dan memenuhi kebutuhan pokok sandang, pangan, dan papan. Lalu, di usia 30-an, sudah harus berinvestasi, membuka tabungan pendidikan anak, dan menyiapkan dana darurat. Empat atau lima tahun kemudian, sebaiknya dana atau tabungan pensiun sudah tersedia.
Jika Anda dan dia tak begitu peduli pada bertambahnya usia, maka ketika masalah ini muncul, potensi terjadinya keributan akan besar. “Bayangkan, seandainya Anda membutuhkan biaya darurat saat ada anggota keluarga yang sakit, apa yang akan Anda lakukan? Sibuk cari pinjaman sana-sini, mencari pekerjaan tambahan, hingga akhirnya rumah tangga terabaikan,” kata Mike lagi.
Prenup, Perlu atau Tidak?
Perceraian, semua pasangan pasti tak ingin itu terjadi. Tapi, bagaimana bila jalan ini harus ditempuh? Seperti apa pembagian harta gono-gininya? Di luar negeri, khususnya di kalangan selebritas Hollywood, perjanjian yang biasa dikenal dengan pre nuptial agreement atau prenup ini adalah hal biasa. Bisa jadi ini karena mereka menikah di saat sudah sama-sama sukses, dan memiliki harta masing-masing. Jadi, jika bercerai, mereka tak harus ribut mengurus harta gono-gini.
Di Indonesia, sebetulnya ada Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang  mengatur mengenai perjanjian pranikah, khususnya pada Pasal 29. Namun,   “Ada yang perlu dan ada yang tidak. Prenup dibutuhkan oleh orang yang hartanya banyak dan dibutuhkan untuk menghidupi banyak orang. Misalnya, seorang putri ahli waris perusahaan, di mana asetnya digunakan untuk menjalankan perusahaan dan membiayai banyak kepentingan,” jelas Mike Rini. Untuk orang biasa, lebih baik tidak usah menggunakan prenup.
Prenup juga disarankan untuk orang yang sudah pernah bercerai. “Jadi, ketika  ia menikah lagi, ia akan lebih relaks menghadapi pernikahan berikutnya, mengingat mungkin ada sedikit konflik ketika menjalani perceraiannya,” tegas Mike Rini.
Argarini Devi
sumber : femina.co.id – judul asli Semua Karena Uang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here