Sumbangkan Rp21 Juta Hasil Jual Motor, Pensiunan Guru ini Tuai Pujian

0
5318
Yogyakarta – Sebuah motor butut dan berkarat dengan lampu yang telah mati milik seorang pensiunan guru di Yogyakarta laku Rp 36,4 juta. Sang pemilik motor bukannya menerima uang hasil penjualan motor, tapi malah menyumbangkan sebagian besar uangnya ke yayasan.

Hardjosudiro (80), demikian nama pemilik motor itu. Dia merupakan guru SMA de Britto Yogyakarta pada periode 1969-1996. Pria kelahiran 1936 ini menjual motor kesayangannya, Suzuki FR80 keluaran tahun 1977, karena dia tak diperbolehkan lagi mengendarai motor setelah menjalani operasi pemasangan alat pacu jantung setahun lalu.

Rencana Hardjo menjual motor kesayangan didengar salah satu alumni de Britto. “Ada kakak kelas (alumni De Britto) namanya Rafa Agung, dia yang pertama sharing (informasi) ke (grup whatsapp) De Britto Business Community (DBBC). Di situ dia bilang pak Hardjo mau jual motor,” ujar salah seorang alumni SMA Kolese De Britto, Yusuf Khestanon, saat dihubungi detikcom, Senin (6/6/2016).

Pria yang akrab disapa Anon ini menjelaskan semangat yang disampaikan dalam informasi tentang penjualan motor sang guru adalah berapapun harganya, yang penting motor itu dibeli oleh alumni De Britto. Pak Hardjo yang dipanggil murid-muridnya kini Mbah Guru Hardjo ingin motornya ini dibeli oleh anak didiknya sendiri.

Foto: Facebook

Proses lelang via media sosial dilakukan mulai Kamis (26/5) hingga Minggu (29/5) lalu. Disepakati motor tersebut dilelang dimulai dari harga Rp 2 juta dan dengan tawaran selanjutnya kelipatan Rp 50 ribu, lalu kelipatan dari jumlah tawaran sebelumnya. Proses lelang ditutup pada Minggu (29/6) pukul 21.00 WiB.

“Pemenang lelang Rp 15,5 juta oleh pak Gunawan Wibisono angkatan 86. Tapi kami nggak mau dong kalau cuma sedikit. Lalu ada dari kita yang bilang, ya sudah kemarin yang nawar, tawaranmu jadikan ‘bantingan’. Jangan cuma ngomong aja,” ujar Anon sambil tertawa.

Namun dari usulan itu, tidak hanya penawar yang ikut menyumbang, tapi alumni-alumni lain yang tak ikut menawar turut menyumbang.

“Semua urunan (menyumbang) lalu ketemulah angka Rp 36,4 juta,” tuturnya.

Uang hasil lelang diberikan secara langsung di sebuah angkringan di Sleman, pada Sabtu (4/6/2016). Hardjo yang semula mengetahui uang yang diperolehnya Rp 15 juta, tak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika tahu total uang yang terkumpul untuknya menjadi Rp 36,4 juta.

“Pas dikasih tahu dapatnya Rp 36,4 juta, beliau bilangnya Wathathithah!. Ini bahasa yang digunakan Punokawan ya, artinya bahwa kagetnya itu dikembalikan ke Yang Kuasa,” kata Anon.

Wathathithah kok akeh men! (kok banyak sekali!)” tutur Anon menirukan Hardjo.

Hardjosudiro dan motor bututnya yang sudah laku tapi belum diambil si pemenang lelang (Foto: Sukma Indah P/detikcom)

Hardjosudiro saat ditemui detikcom di rumahnya, di kawasan Wirobrajan, Yogyakarta, Senin (6/6/2016), mengaku tak menyangka motor tuanya terjual setinggi itu. Dia akan menyumbangkan Rp 21,5 juta dari hasil penjualan motornya.

“Jadi saya rencananya, Rp 20 juta saya bagi dua untuk Yayasan Bakti Luhur di Desa Sumber Berbah dan yang di Malang. Itu panti asuhan untuk anak cacat,” kata Hardjo.

Tak hanya itu, sebesar Rp 1,5 juta juga akan diberikan ke gereja. “Sedangkan sisanya sudah saya pakai untuk membuat sumur bor Rp 6 juta. Sisanya buat saya simpan kalau ada kebutuhan,” katanya sambil tersenyum.

Alumni de Britto kagum. Sebab, meski butuh uang, Hardjo tak gelap mata. Kisah ini di-share tak cuma alumni de Britto, tapi ribuan netizen. Semua memuji tindakan Mbah Hardjo, sang pensiunan guru yang sederhana itu.
(sip/try)

Mau bebas hutang, mau berani sedekah? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii
 sumber : detikcom

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY