Uang Itu Netral

0
95

Suatu hari, seorang dosen istri saya – ketika kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya

– datang ke Jakarta dalam suatu acara dan sempat berbincang dengan istri saya. Setelah berbincang ‘kesana-kemari’ untuk bernostalgia, istri saya nyeletuk, “Wah, Bapak sekarang enak ya…, sudah kaya dan sering bepergian ke luar negeri”. Sang dosen justru menjawab, “Iya, tapi aku sudah memberi pesan kepada tujuh anak saya untuk tidak kaya!”. “Lho kok begitu, kenapa Pak?”, tanya istri saya keheranan. “Habis saya sudah merasakan, ternyata kaya itu sumber fitnah”, jawab sang dosen dengan tangkas. Sayangnya, pembicaraan berhenti sampai di situ, karena sang dosen mendapatkan telepon untuk segera pulang ke Surabaya.

Tidak dapat di pungkiri bahwa apa yang dirasakan sang dosen itu benar – benar terjadi dalam kehidupan. Kekayaan memang dapat menjadi fitnah bagi seseorang maupun sebuah keluarga. Fitnah terhadap harta terjadi karena menyibukkan diri demi harta, lupa ibadah serta menahan harta itu sekuatnya sehingga tidak dikeluarkan untuk hak – hak Tuhan. Dalam Al-Qur’an Allah telah mengingatkan :

“Sesungguhnya harta dan anak – anakmu adalah fitnah (cobaan)”.

Al-At-Taghaabun (64) : 15

Pertanyaannya, “Akankah kita menghindar dari kekayaan”? Allah tidak pernah melarang umat-Nya memiliki kekayaan, tetapi hanya memberikan peringatan agar lebih hati-hati!. Ibarat dalam sebuah pertempuran, perjalanan hidup ini harus dijalani dengan berbagai konsekuensinya. Tidak ada kata mundur, karena kata itu hanya pantas diucapkan pecundang. Seorang ksatria pantang mundur dalam medan perang. Jadi bagaimana? Kita harus berdo’a dan berpikir untuk mencari jalan keluar agar bisa mengelola kekayaan dan tidak menjadi fitnah. Bukankah Allah tidak hanya menguji dengan kekakayaan, tetapi juga dengan kemiskinan?.

”Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata : ’Tuhanku telah memuliakanku’. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rejekinya, maka dia berkata : “Tuhanku menghinakanku’. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang bathil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan”.

QS Al – Fajr (89) : 15 – 20

Dengan demikian, apakah harta itu jelek atau buruk? Apakah boleh memiliki uang dalam jumlah banyak berkelimpahan? Lebih baik mana orang yang kaya bersyukur dengan orang miskin yang sabar? Apakah benar uang adalah akar dari kejahatan dan fitnah?. Apakah memang demikian adanya? Dalam buku Kaya Tanpa Bekerja (Republika, 2004) saya mengajak berpikir obyektif dengan tidak hanya mencari kejelekan dan bahaya memiliki banyak uang. Bukankah kemiskinan juga bisa menyebabkan seseorang menjauhi Tuhan? Berapa banyak pemulung, pengemis di jalanan dan pekerja kasar lainnya yang kurang memperhatikan ibadah dengan alasan sibuk, sama seperti alasan orang kaya yang tidak taat ibadah meskipun sudah memiliki kekayaan berlimpah?.

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

Sumber gambar : Google

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here